2

Resolusi Lebaran: Menabung Sebelum dan Sesudah Lebaran

 

#ResolusiLebaranKu

#ResolusiLebaranKu

Selamat malam bloggers…

Bulan ramadhan telah kita lewati, nah sekarang saatnya menikmati waktu bersama keluarga di sela-sela libur lebaran. Ada yang memilih untuk mudik ke kampung halaman, liburan ke suatu tempat, atau berkumpul dengan keluarga kecil di rumah tanpa pulang ke kampung halaman.

Ada beberapa hal yang identik dengan lebaran. Salah satunya, yaitu THR. Sudah menjadi tradisi saat hari raya untuk membagi-bagikan ‘angpao’ lebaran atau yang sering disebut dengan THR (Tunjangan Hari Raya). Sebenarnya, istilah THR sendiri digunakan pada konteks pesangon atau ‘gaji’ tambahan menjelang hari raya yang diberikan kepada pekerja atau karyawan. Namun, sekarang ini istilah THR juga digunakan oleh anak kecil dan para remaja sebagai nama lain dari ‘angpao’ lebaran.

Biasanya, semakin tua umur kita, semakin sedikit THR yang diperoleh, hehehe. Dulu, ketika saya masih kecil, THR yang saya peroleh bisa mencapai Rp 400.000,00 lho. Hasil THR tersebut biasanya saya titipkan pada ibu, karena saya adalah tipikal orang yang ‘sedikit-sedikit kepengenan kalo lagi ada uang banyak’. Dengan uang tersebut saya bisa membeli sepatu baru serta peralatan sekolah lainnya sehingga sedikit meringankan orang tua. Wah, rasanya ingin kembali ke masa-masa SD hahaha.

Tapi di umur saya yang sekarang sudah menginjak 18 tahun, boro-boro dapat THR segitu banyak. Malah kadang-kadang saya yang dimintai THR oleh keponakan. Wah, padahal saya sendiri belum bekerja dan menghasilkan uang sendiri. Status masih mahasiswa yang sering bingung memperoleh uang saku tambahan, eh malah dimintai THR. Ckckckck. Disitu kadang saya merasa sedih😦.

Lebaran tahun ini saya harus bisa sebisa mungkin memutar otak supaya tidak tergoda ini-itu karena THR yang saya punya juga tak banyak. Apalagi, saat-saat seperti ini, banyak baju, tas ataupun barang lain yang sangat menggoda iman untuk dibeli. Tapi, saya harus bisa menyesuaikan kebutuhan dengan budget atau uang yang dimiliki. Jangan sampai pengeluaran lebih besar dari pemasukan. Wah, bahaya.

Nah, cara untuk mengatasi supaya kita tidak tergoda barang-barang yang seharusnya tidak kita beli, Cermati mempunyai artikel tips keren dan sangat patut untuk diterapkan bagi kalian yang ingin tahu cara me-manage uang THR dengan baik. Untuk mengetahui lebih lanjut, klik di artikel 5 Cara Bijak Memakai Uang THR.

Salah satu langkah yang saya lakukan untuk mengatur keuangan sebelum maupun sesudah lebaran yakni dengan cara menabung. Menabung sebelum lebaran dapat digunakan ketika ada keperluan mendadak saat lebaran datang. Selain itu, dengan menabung sebelum lebaran, uang yang tadinya untuk membeli barang-barang tidak penting jadi lebih aman jika berada dalam tabungan. Kemarin, sewaktu saya jalan-jalan ke mall bersama kakak, saya melihat ada jaket yang bagus, namun setelah melihat bandrol harganya, saya langsung meletakkan kembali jaket tersebut ke tempatnya. Sebenarnya, saya bisa saja membeli jaket itu, namun mengingat ada hal lain yang jauh lebih penting, saya memutuskan untuk tidak membelinya. Saya biarkan uang saya berada di tabungan supaya aman dan tidak ‘diotak-atik’.

Jika Anda bingung memilih tabungan yang sesuai keinginan, Anda dapat melihat informasi mengenai jenis-jenis tabungan di cermati.com lalu pilih tab menu Simpanan. Setelah mengetahui jenis tabungan dan fasilitas yang Anda dapatkan jika menabung di bank tersebut, tentu Anda tak lagi bingung harus menabung dimana kan?

Nah, setelah lebaran-pun kita harus bisa mengatur keuangan, supaya tidak ada hutang sana-sini akibat belanja yang berlebihan. Lagi-lagi, Cermati punya artikel kece yang sangat membantu nih, 5 Hal yang Harus Jadi Resolusi Keuangan Lebaran Anda.

Lebaran tahun ini saya sedang mengumpulkan uang untuk membayar kos-kosan nih. Ya walaupun belum bisa membayar sepenuhnya, tapi setidaknya bisa membantu orangtua. Hihihi. Semoga saja tabungan saya cepat terkumpul

0

Welcome My Eighteen

From BeBiPro

IMG_20150701_200704

Surprise Konco Eek.

Hari pertama di bulan Juli. Hari dimana ayah dan ibuku begitu bahagia dan tersenyum senang ketika melihatku lahir dengan selamat. Hari dimana aku bisa melihat semesta juga isinya yang tak pernah kulihat sebelumnya di rahim ibu. Hari dimana ayah mengumandangkan adzan di telinga mungilku, lalu mengecup dahiku penuh sayang.

Semuanya berjalan begitu cepat. Rumah, mainan, pun orang-orang yang selalu berada disekitarku entah bersembunyi di belahan bumi bagian mana. Mereka enggan menyapa, mereka lupa wajah dan caraku berbicara. Satu per-satu mereka beranjak dan lebih memilih teman serta lingkungan yang baru.

Hari, bulan, tahun-pun berlalu. Aku tak lagi dapat digendong ayah ketika malas sekolah. Aku tak lagi dapat berlari-larian ketika turun hujan. Aku tak lagi merengek-rengek minta dibelikan mainan yang setelah itu dibuang begitu saja. Aku tak lagi didongengi ibu menjelang tidur. Aku tak dapat lagi. Siklus berputar, pun kehidupanku.

Thank’s God, I got my eighteen.

Kini, aku sudah delapan belas tahun. Bukan waktunya untuk bermanja-manja dan bermalas-malasan. Bukan waktunya untuk menyusahkan bapak dan ibu lagi. Dan sudah waktunya untuk menyelesaikan masalah sendiri.

Semoga di umur yang baru ini, aku bisa mengulangi kembali masa-masa kecil walau tidak sepenuhnya. Berkumpul di tengah kehangatan keluarga, bersandar di pundak ibu sambil mendengarkan ceritanya hingga tertidur. Semoga.

Tuhan, terimakasih. Semoga aku bisa mendapatkan kembali sembilan belasku dan seterusnya. Amin.

2

Tentang Puasaku

Hari kedua puasa nih guys, gimana rasanya? Bisa nahan nafsu buat nggak mesra-mesraan sama pacar kan? Tapi, masih bisa nahan buat nggak stalking gebetan nggak nih? Apa udah beralih ngestalk lembar-lembar Al-Qur’an? Subhanallah…

Sayangnya gue nggak kebagian puasa pertama nih. Ya, biasalah cewek. Dapet periode bulanan. Yang lain puasa, gue malah ngemilin remahan roti beberapa minggu yang lalu. Nggak tau udah kadaluwarsa apa belum. Nggak ding, gue cuma minum air putih hampir setengah galon sampe bolak-balik kamar mandi.

Sebenernya, ini pertama kalinya gue ngerasain ramadhan di Semarang. Tapi, bukan pertama kalinya di kota orang sih, soalnya sebelumnya gue udah pernah ngerasain ramadhan di Cilacap. Ya, pas waktu Praktek Kerja Lapangan (PKL) kelas tiga SMK dulu. Jadi, gue udah terbiasa ngapa-ngapain sendiri. Ya, jomblo emang mandiri *eh*.

Tapi, ada kalanya gue kangen buka bareng keluarga. Bikin es kopyor bareng kakak gue yang hasilnya malah fail total. Nyicipin kolak pisang diem-diem pas ibu lagi mandi. Beli takjil macem-macem, yang pada akhirnya malah nggak kemakan gegara udah kekenyangan. Main petak umpet sebelum tarawih sampe adzan isya. Mbawain jajan buat dimakan pas sholat tarawih. Pokoknya, tas mukena multi fungsi. Bisa buat isi mukena, bisa juga buat isi jajan sama buku ramadhan.

Huh, jadi kangen puasa di rumah bareng keluarga.

Tapi kalo misalnya gue ngelakuin hal-hal tadi di umur gue yang udah setengah mateng ini, kayaknya nggak mungkin deh. Bayangin aja, gue ngemilin mie instant di dalem masjid pas sholat tarawih. Yang ada, gue disindir sama mbah-mbah yang sholatnya shaf paling belakang. Terus, kalo gue main petak umpet, pas berhasil nemuin musuh pertama kali, nanti malah bilang ‘Kamulah jodohku. Sejauh apapun kita dipisahkan, Tuhan pasti akan mempertemukan kita.’ Ya, jomblo memang begitu dramatis.

Jaman sekarang udah nggak hits tuh main petak umpet. Yang lagi ngetrend, saling pamer gadget ke temen-temennya. Asik-asikkan selfie, terus diupload di facebook, twitter, instagram dan sekawannya, pake caption ‘Tarawih perdana. Bismillah, semoga berkah ya Allah.’ Kalo minta berkah kenapa harus diupload di sosmed? Dikira Tuhan sosmed-an juga? Heish.

Bulan ramadhan kadang juga dijadiin buat ajang modus ke gebetan. Dulu, waktu gue kelas dua SMK, abis sholat tarawih banyak cowok-cowok yang nongkrong di depan pagar masjid demi nyapa gebetannya atau bahkan pulang bareng. Abis itu mereka mampir dulu ke warung kopi sambil ‘sok’ ngobrolin tugas atau ceramah pak kyai tadi. Yang cowok lengkap dengan sarung dan pecinya, yang cewek lengkap dengan atasan mukenanya. Ya, modus emang sesederhana itu.

‘Oh, besok tugasnya Pak anu? Biarin lah paling juga dia nggak inget.’

‘Oh, pesantren kilat? Gampang lah nggak ada pelajaran kan?’

‘Lo tadi nyatet ringkesan ceramahnya pak kyai kan? Gue nyontek dong.’

Pas ngembaliiin bukunya, ternyata ada kertas kecil nyelip ‘Lo kemarin belum bayar utang pas di warung kopi kan?’

Yah, ternyata yang cowok orangnya perhitungan banget, padahal ceweknya udah baper dikira mau ditembak.

Baper adalah singkatan dari bawa perasaan. Pokoknya, apa-apa ditanggepin pake perasaan. Biasanya, cewek-cewek sering banget baper ke gebetannya. Disapa, baper. Ditawarin pulang bareng, baper. Dikenalin ke orangtua, juga baper. Ini kenapa jadi mbahas baper?

Nah, biasanya pas bulan ramadhan gini, banyak orang yang dehidrasi pas siang bolong gara-gara minum sedikit air putih pas buka dan sahur. Makanya, jangan lupa banyak-banyakin minum air putih, guys. Jangan cuma minum es cincau atau sekawannya. Yang ada nanti kalian kena kanker yang disebabkan oleh kelebihan mengkonsumsi cincau. Hiiii serem kan?

Ya udah deh, gue mau wifi-an dulu di kampus sampe adzan maghrib nanti. Barangkali aa yang ngajakin buka bareng, gitu. Kan lumayan, hemat pengeluaran.

Salam tahan nafsu. Dadah paha, dari mbak-mbak KFC.

2

Yuk, Budayakan Menabung

Akhir bulan keuangan menipis, sedangkan kebutuhan yang harus dipenuhi semakin berdesakan?  Menabung bisa menjadi salah satu solusi untuk menyimpan ‘sedikit’ sisa uang kalian. Nah, sisa uang alias simpanan ini bisa dijadikan sebagai alternatif jika Anda kekurangan uang saat akhir bulan atau kapanpun.

Menabung juga biasa dilakukan karena ingin membeli sesuatu yang sangat berarti dengan harga yang cukup fantastis bagi kita. Supaya bisa membeli barang itu, kita rela menyisihkan uang setiap harinya. Entah itu pakaian, tiket konser, atau sepatu yang sedang limited edition.

Dulu ketika masih SMK, saya sering menyisihkan uang receh lima ratusan  dan menyimpannya di botol plastik air mineral yang diberi lubang kecil. Tapi, ada saja keperluan yang harus dipenuhi sehingga botol tersebut tak kunjung penuh. Entah itu untuk makan (sejak SMK saya sudah nge-kos), beli buku, atau iuran kelas. Kemudian, saya mencari cara bagaimana supaya saya bisa menabung dengan efektif. Nah, saya beralih untuk menabung di bank sekolah. Kalau sering ngambil uang di bank kan pasti malu, pikir saya waktu itu.Tapi, lagi-lagi cara ini tidak benar-benar membuat saya rajin menabung. Saya jadi jarang menabung dan menyimpan uang tabungan di dompet. Alhasil uang tersebut selalu dipakai untuk membeli kebutuhan yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Alhamdulillah, sekarang saya bisa menabung walaupun uang tabungannya belum seberapa. Yang terpenting, bisa menabung sedikt-demi sedikit dan nantinya akan bertambah banyak. Nah, kali ini saya akan berbagi tips-tips menabung. Yuk, dibaca dan dipahami.

  1. Sisihkan uang kembalian

Ketika pergi berbelanja, kita sering mendapatkan uang receh kembalian dari kasir. Kumpulkan uang receh tersebut dan simpan pada sebuah celengan. Nah, untuk kalian para remaja bisa menitipkan celengan tersebut ke orang tua kalian, supaya lebih aman. Dengan kebiasaan mengumpulkan uang receh, tabungan yang kita miliki dapat bertambah. Kumpulkan juga uang receh dari saku pakaian atau celana. Banyak dari kita yang memiliki kebiasaan menyimpan uang kembalian begitu saja di saku pakaian atau celana dan mengabaikannya begitu saja.

  1. Memiliki Rekening Tabungan

Setelah uang di celengan terkumpul banyak, segera simpan uang tersebut di bank. Tujuannya, agar uang tersebut lebih terjamin keamanannya. Kalau perlu, pilihlah tabungan berjangka, yaitu tabungan yang hanya bisa diambil pada jangka waktu tertentu. Atau, pilihlah tabungan yang memiliki jumlah ATM terbatas dan hanya berada di tempat tertentu. Nah, dengan tabungan berjangka dan bank yang memiliki keterbatasan ATM ini, Anda bisa menunda keinginan untuk membeli keperluan yang tidak terlalu penting dan mengutamakan kebutuhanmu yang mendesak. Bingung memilih jenis tabungan yang tepat? Bukalah website cermati.com. Cermati menyediakan informasi mengenai jenis tabungan mulai dari tabungan bisnis, tabungan anak, dan lain-lain. Tidak hanya itu, Cermati juga menyajikan artikel-artikel finansial yang tentunya sangat bermanfaat bagi kita.

  1. Minimalisir Pengeluaran

Untuk kamu yang terbiasa boros dan menghambur-hamburkan uang, pastikan setelah ini Anda berhemat-ria. Minimalisir pengeluaran Anda dan belilah barang yang benar-benar dibutuhkan. Catat pengeluaran supaya Anda mengetahui berapa banyak pengeluaran dalam jangka waktu tertentu. Biasakan berpuasa Senin-Kamis, olahraga supaya tidak cepat sakit, serta gunakan transportasi yang murah.

  1. Gunakan sebagian penghasilan anda untuk bisnis

Bisnis adalah salah satu aset masa depan yang cukup menjamin. Sisihkan sebagian penghasilan kalian untuk berbisnis. Dengan menyisihkan uang anda untuk berbisnis, tentu uang tersebut akan bertambah sesuai dengan keberhasilan bisnis yang kita lakukan. Pastikan bisnis yang Anda jalankan adalah bisnis yang dapat memberikan keuntungan yang stabil. Maka dari itu, sebelum memulai bisnis, carilah informasi mengenai bisnis sebagai panduan awal. Anda bisa mengakses tips melakukan bisnis, dan hal-hal mengenai bisnis lainnya di cermati.com.

  1. Tetap konsisten dalam menabung

Nah, hal terakhir ini yang biasanya sulit dilakukan oleh kebanyakan orang, termasuk saya. Menabung harus dilakukan secara konsisten, walaupun jumlah uang yang ditabungkan hanya sedikit. Jadi, kita harus mematok target, misalkan setiap minggu saya harus menabung minimal Rp. 10.000,00. Setelah menarget, tentunya kita harus menabung sesuai target dan dilakukan secara rutin.

Ya, itu tadi beberapa tips menabung dari saya. Semoga kita semua bisa terus konsisten menabung. Walaupun sedikit, kan lama-lama menjadi bukit. Yuk, Budayakan menabung.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Share Tips Menabungmu bersama Blog Emak Gaoel dan Cermati”

Buat kalian yang ingin ikuatn loma ini juga, bisa klik disini ya🙂

Lomba Blog Share Tips Menabungmu

Lomba Blog Share Tips Menabungmu

0

Naik-naik ke Puncak Andong

Negeri di atas awan.

Negeri di atas awan.

CIMG1479

Tendaa~~

Tendaa~~

H-a-i guys! Beberapa minggu lalu gue bareng 13 temen gue ndaki ke Gunung Andong, Magelang. Gue yang emang bener-bener awam tentang muncak, akhirnya nge-iyain aja pas diajakin temen gue. Ngajakinnya mendadak banget. Diajak hari malem Jumat, berangkat muncaknya Jumat siang jam 3. Oke. Without prepare.
Namanya juga Indonesia, nggak afdol kalo nggak ngaret. Janjian jam 2, eh baru berangkatnya jam 3 #ItsIndonesia. Gue, diboncengin sama salah satu temen gue, Dian. Kita bener-bener belum pernah kesana dan cuma ngandelin Google Maps sama tanya-tanya warga sekitar. Waktu temen gue, Eka tanya sama salah satu warga dijawab gini “Oh, Andong? Coba mbaknya lurus, terus pertigaan ini ada pasar, belok kiri mbak. Nah coba tanya orang-orang yang ada disitu.” Ibunya ngejawab dengan muka polos tak bersalah. Gue cuma mesem datar, sambil ngucapin makasih dengan nada terpaksa.
Setelah muter-muter, akhirnya kita nemu pertigaan yang ada plang “Basecamp Sekar Arum”. Dengan muka bahagia yang berlebihan, kita langsung masuk dan nemuin juru kuncinya. Kita disuruh ngisi data-data sama istirahat dulu. Nyampe di basecamp sih pas Maghrib, dan kita berencana buat muncak abis Isya. Setelah selesai sholat sama siap-siap, gue sama temen-temen langsung berangkat ndaki penuh semangat 45. Gue sih mikirnya nggak bakal capek-capek banget kali ya, soalnya kata Rian Gunung Andong ini nggak tinggi-tinggi banget. Cocok lah buat pemula macem gue. Gue-pun makin pede buat muncak.
Di track awal, kaki gue udah berasa mau copot. Tanahnya dibikin kayak tangga gitu, dan jaraknya jauh. Gue sampe mikir, jangan-jangan jalannya sampe puncak tangga gini terus. Soalnya, tangga yang dilewatin nggak kelar-kelar. Udah kayak tembok raksasa Cina aja.
Nafas gue ngos-ngosan, susah banget ngaturnya. Apalagi ndakinya malem, berasa rebutan oksigen deh sama pohon. Sempet beberapa kali break, buat ngelurusin kaki atau minum. Gue yang emang nggak ada persiapan, bener-bener ngerasa capek, padahal belum setengah perjalanan. Sampe di pos 1, kita istirahat sebentar sambil makan perbekalan. Pemandangan dari atas pas malem hari bener-bener indah banget. Sayangnya, gue nggak sempet moto, males ngubrek-ngubrek kamera yang nyempil di dalem tas.
Kita jalan lagi, dan ternyata makin ke atas, track-nya makin ekstrim. Jalannya nanjak banget. Gue sempet tepar disini. Rasanya gue pengen beli napas. Gila, nggak tau kenapa, dadanya sesek banget buat napas. Lemah banget ya, gue. Dengan nafas yang panjang pendek kayak sempritan morse, gue minta lanjut aja jalannya. Kasian kan, kalo istirahat mulu nggak nyampe-nyampe nanti.
Setelah sampe di pos 2, kita mutusin buat break (lagi), soalnya kabutnya tebel banget. Jadi, kita mutusin buat istirahat sampe nungguin kabutnya menipis. Sambil nggelar tiker, kita canda-candaan gitu. Gila, gue nggak abis pikir sama Nyem, dia tenaga kingkong kali ya. Udah ndakinya strong, masih aja bercandaan sama nyanyi-nyanyi sepanjang jalan. Sedangkan gue, buat napas aja kewalahan.
Nah, pas kabutnya menipis, kita lanjut lagi tuh muncaknya. Gue ngerasa tenaga gue agak pulih dan bisa jalan pake tongkat layaknya nenek-nenek. Ya, abis track-nya ekstrim banget. Kalo nggak pake tongkat, bisa nggak seimbang dan bisa jatuh ke bawah, lho. Hiiiiii.
Tadinya kita mau neusin jalan lagi sampe ke puncaknya. Tapi, diliat-liat disana udah penuh tenda, dan kita nggak mau ambil resiko udah nyampe sana nggak dapet tempat buat ndiriin tenda. Akhirnya, kita ndiriin tenda di tempat yang agak landai, dan mutusin buat muncak besok pagi jam 5.
Gue langsung masuk tenda pas tendanya udah jadi. Besemayam di dalem sleeping bag, tidur deh. Walapun udaranya dingin banget, tapi nih badan bisa tidur juga. Capek sih, haha. Anak-anak cowok malah belum pada tidur. Mereka masak mie karena saking lapernya. Sebenernya gue juga laper sih, tapi gue juga pengen tidur. Nungguin mereka nyalain kompor aja lama banget, hehuheuu~~.
Paginya, gue sama temen-temen langsung jalan lagi, buat ke puncaknya. Sampe sana, nggak nyesel deh pokoknya. Lo bisa liat sunrise, sama pemandangan bawah yang super keren. Kaki gue udah nggak kerasa capek lagi. Rasanya gue nggak nyesel capek-capek buat sampe ke puncak.
Pokoknya, pengalaman muncak gue yang pertama ini bener-bener amazing. Ya, walau bukan muncak ke gunung yang ngehitz kayak Merbabu, Merapi, atau Semeru. Tapi suatu saat, gue pengen muncak lagi, bareng temen-temen gue tentunya. Emang bener apa yang dibilang orang-orang, kalo muncak itu nguji kesetiakawanan temen kita dan ngajarin kita buat nggak egois. Kalo lo capek, nggak kuat buat jalan ya ngomong. Jangan nggedein ego lo, jangan sok kuat. Mending break sebentar kan, daripada lo nanti pingsan di tengah jalan dan malah nyusahin temen-temen lo. Kebanyakan orang nggak bisa sampe puncak gara-gara egonya.

Nah, itu sedikit cerita gue dari hasil muncak kemarin. Yuhuuu babay~~

0

Bagaimana jika…

Kamu mengucap sebait kalimat dengan nada datar, juga nafas teratur. Kamu hanya melirikku barang tiga detik. Kamu hanya menanggapi ucapanku dengan dehaman singkat serta anggukan kepala. Kamu, manusia semi robot. Raga yang tak penuh dengan jiwa.

Al, aku adalah tipe orang yang mudah bosan. Lalu, bagaimana jika aku bosan menanti status lajangmu?

Bagaimana jika aku tak bisa lagi menunggu?

Bagaimana jika aku bosan dengan sikap acuhmu? Bagaimana jika aku menemukan sosok lain yang jauh lebih pengertian daripada kamu? Bagaimana jika aku memutuskan untuk berhenti mencintaimu? Bagaimana Al?

Al, sabar akan senantiasa ada selama kamu memintanya. Namun kau memang tak benar-benar memintanya. Aku akan pergi secepat aku bisa. Secepat aku mampu berlari pada arah yang berlawanan denganmu.

Al, maaf jika aku masih mencuri pandang padamu. Itu adalah salah satu kebiasaan yang sudah mengakar dan sulit dilepas.

Al, aku pergi ya? Maaf selama ini membuatmu tak nyaman. Selamat berbahagia dengan wanitamu.

0

Al, (bukan) Priaku

Namanya Al. Mencintai pria macam Al membuatku tak jarang uring-uringan. Ia selalu menyimpan beragam rahasia dibalik sikapnya yang dingin dan pendiam. Seperti itulah, semenjak bulan November 2014 lalu. Aku mencintai Al, sebenar-benar aku mengetahui segala kebiasaan dan sifatnya.

Namanya Al. Ia hanya berbicara pada orang-orang tertentu saja. Dan aku, tidak termasuk dalam kategori orang-yang-mudah-berbicara-dengannya. Mungkin jika dihitung, hanya sekali dalam seminggu aku dapat berbicara dengannya. Itupun hanya satu-dua kalimat saja.

Namanya Al. Rahangnya sudah lama menjadi favoritku; keras dan tegas. Tatapannya yang tajam menjadi hal kedua favoritku setelahnya. Menatapnya dari sudut samping, sudah begitu sering kulakukan. Sambil menahan senyum, aku mencuri pandang padanya. Ia tak akan tahu, karena terlalu sibuk berkutat dengan bukunya.

Namanya Al. Pria yang sudah enam bulan ini merasuki sel-sel otakku. Ia merayap ganas, namun aku menikmatinya. Al, satu-satunya pria yang mampu membuatku jatuh cinta segila ini.

Namanya Al. Pria yang mampu membuatku khawatir, kagum dan bahagia dalam sekejap. Pria yang tak akan tahu perasaanku, sebab selamanya aku tak akan memberitahunya. Al, pria yang sudah berbahagia dengan wanita lain. Sedangkan aku, wanita yang masih belum menemukan kebahagiaan yang sempurna selain sesekali menangkap senyum-miring-tipisnya.

Al, aku mencintaimu. Mungkin sampai aku bosan. Entah satu atau dua bulan lagi. Atau hanya sampai besok? Entahlah.